Kanada tertarik berbagi keahlian dan mendukung pelaku UMKM, khususnya perempuan wirausaha di Indonesia. Dukungan diwujudkan dalam bentuk program pendanaan.
Hanya, UMKM yang ditopang para perempuan sering menghadapi tantangan karena berbagai alasan, salah satunya kesulitan mengakses permodalan. Berdasarkan diskusi dengan Pemerintah RI, Kanada berencana memberikan dukungan dan berbagi keahlian di area ini.
”Jadi, kami berupaya untuk mendukung perempuan di Indonesia di berbagai bidang,” kata Duta Besar Kanada untuk Indonesia Jess Dutton, Senin (12/1/2026) di Jakarta.
Dukungan Kanada berupa program pendanaan bagi perempuan wirausahawan Indonesia. Program itu bernama Impact Investment Readiness in Indonesia (IIRI) yang diluncurkan oleh Global Affairs Canada (GAC) dan Impact Investment Exchange (IIX), Senin. Program bertujuan memajukan pertumbuhan inklusif.
”(Dukungan) ini tidak hanya akan membantu mendukung pengembangan ekonomi dan pemberdayaan mereka, tetapi pada akhirnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tentu saja hal ini penting bagi Kanada karena kami baru saja menandatangani perjanjian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA-CEPA) atau perdagangan bebas,” ujar Dutton.
Menurut Dutton, keterlibatan aktif perempuan dalam perekonomian dapat memaksimalkan potensi ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2026/01/13/67062425-64f9-4bb1-bc67-ab5499460c99.jpg)
Randeep Sarai, Sekretaris Negara Kanada untuk Pembangunan Internasional, dalam peluncuran program mengatakan, Indonesia salah satu ekonomi yang tumbuh paling cepat di dunia. Indonesia juga kekuatan ekonomi Asia Tenggara yang sedang berkembang.
Di jantung pertumbuhan, ujar Sarai, terdapat perempuan. Para perempuan itu memimpin jutaan UMKM di seluruh Indonesia.
Bisnis tersebut menciptakan lapangan kerja, mendukung keluarga, dan memperkuat komunitas lokal. ”Program IIRI membantu UMKM yang dipimpin perempuan mendapatkan akses yang lebih baik ke pembiayaan,” ujar Sarai.
Inisiatif ini akan memperkuat UMKM yang sangat vital bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia. ”Kanada bermitra dengan IIX untuk mendukung usaha yang dipimpin perempuan di Indonesia. Melalui program IIRI, kami akan memberikan bantuan teknis dan membantu menarik investasi bagi usaha-usaha yang memberdayakan perempuan,” kata Sarai.
Ketika dapat mengakses pinjaman, ekuitas, layanan keuangan digital, dan jaringan bisnis, perempuan pengusaha dapat memperluas produksi, memasuki pasar baru, mengadopsi teknologi baru, dan menciptakan pekerjaan yang layak. ”Hal ini mendorong produktivitas, memperkuat rantai pasokan, dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya menambahkan.
Sarai menambahkan, dukungan untuk bisnis yang dipimpin perempuan di Indonesia mencerminkan komitmen Kanada yang lebih luas terhadap pembangunan inklusif dan kemakmuran bersama.
Durreen Shahnaz, Pendiri dan CEO IIX, mengatakan, aliran investasi sebagian besar terkonsentrasi di wilayah tertentu, seperti Jawa dan Bali. Alhasil, UMKM di berbagai provinsi lain kekurangan pendanaan dan memiliki akses terbatas terhadap sumber daya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2026/01/13/bbe6075b-5e06-409a-b38c-8a1648c317bb.jpg)
IIRI, jelas Shahnaz, akan membawa modal cerdas kepada organisasi nirlaba, bukan ke Jawa, Sumatera, atau Bali. IIRI akan membawa investasi ke tempat-tempat, seperti Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Maluku.
Melalui IIRI, para pelaku UMKM yang berfokus pada perempuan akan dibekali pelatihan, diberikan dukungan kesiapan investasi secara langsung, dan dihubungkan dengan investor yang memahami potensi mereka. ”Dengan membangun kapasitas mereka untuk menarik investasi dan berpartisipasi dalam perdagangan domestik ataupun internasional, kita dapat membantu mentransformasi sektor UMKM Indonesia dan, dengan demikian, mempercepat kemajuan Indonesia menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” kata Shahnaz.
Secara keseluruhan, Sarai mengatakan, program IIRI diharapkan dapat membuka sekitar 27 juta dolar AS modal swasta untuk bisnis yang dipimpin perempuan ini. Program serupa dinilai berhasil di Vietnam.
Sejak dimulai pada 2022, inisiatif serupa di Vietnam yang juga didukung Kanada telah memperkuat hampir 250 bisnis berdampak sosial dan mobilisasi lebih dari 17 juta dolar AS modal swasta. ”Saya berharap melihat hasil yang sama di Indonesia, atau bahkan lebih baik,” kata Sarai.
Lastiana Yuliandari, pendiri dan Direktur Aliet Green, menyatakan kesulitan pendanaan itu. Aliet Green adalah usaha sosial yang bergerak bersama para perempuan petani gula kelapa. Sejak memulai usaha pada 2009, ia berusaha keras memperoleh akses pembiayaan.
Ia kini bekerja bersama sekitar 1.800 perempuan petani gula kelapa di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta dan di Cilacap, Jawa Tengah. Untuk pengembangan usaha lebih lanjut, Lastiana tertarik dengan program dari GAC bersama IIX.
