
Jakarta, 11 Agustus 2026 — Indonesia memiliki salah satu pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai surat berharga beredar mencapai sekitar Rp7.800 triliun (setara USD480 miliar). Pemerintah Indonesia juga telah menunjukkan kepemimpinan global dalam keuangan berkelanjutan, termasuk sebagai penerbit sukuk hijau terbesar di dunia, sebuah instrumen pembiayaan inovatif yang kini direplikasi oleh negara-negara berkembang lainnya. Surat berharga pemerintah mencakup lebih dari 90% pasar obligasi domestik, mencerminkan peran sentral obligasi pemerintah sekaligus menjadi fondasi yang kuat bagi pengembangan keuangan berkelanjutan ke depan.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia mencatat tonggak baru dengan menjadi negara dengan komitmen penerbitan Orange Bond terbesar di dunia sekaligus negara pertama yang menerbitkan Orange Sukuk. Pencapaian ini justru didorong oleh sektor korporasi. Jika penerbitan obligasi tematik di Indonesia selama ini banyak ditopang oleh pemerintah, transaksi ini menandai semakin besarnya peran korporasi dalam mendorong keuangan berkelanjutan, sekaligus membuka potensi pertumbuhan pasar yang saling melengkapi.
Dengan latar belakang tersebut, Indonesia terus mendorong upaya mobilisasi Orange Capital, bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), untuk mendukung pemberdayaan perempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas gender, dengan fokus khusus pada aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan yang responsif gender.
Untuk memperkuat momentum tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI), BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), dan Impact Investment Exchange (IIX), pelopor global investasi berdampak yang menciptakan Orange Bond, menyelenggarakan Indonesia Thematic Bonds Roundtable dengan tema “Indonesia’s Trillion-Rupiah Opportunity: Advancing an Inclusive and Resilient Economy through Thematic Bonds” pada 11 Agustus di Main Hall Bursa Efek
Forum ini mempertemukan calon penerbit obligasi dan para pelaku pasar modal untuk membahas perkembangan pasar obligasi tematik di Indonesia, termasuk kerangka kerja sebelum dan sesudah penerbitan (pre- and post-issuance framework) yang diterapkan oleh para penerbit, dengan Orange Bond sebagai studi kasus utama. Selain itu, forum ini juga akan membagikan pembelajaran dan praktik terbaik dari berbagai penerbitan obligasi tematik, sekaligus merumuskan langkah-langkah konkret untuk memperluas pipeline transaksi obligasi berbasis dampak (impact-linked bonds) di Indonesia.
Listyorini Dian Pratiwi, Wakil Direktur Pengembangan Perusahaan Tercatat Bursa Efek Indonesia, mengatakan, “Momentum saat ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa target perolehan dana dari penerbitan instrumen utang berkelanjutan sebesar lebih dari Rp200 triliun pada 2030, sebagaimana ditetapkan dalam Sustainable Finance Roadmap, dapat tercapai. Nilai perolehan dana dari instrumen utang berkelanjutan terus menunjukkan tren peningkatan dan sejak 2023 telah berkontribusi lebih dari 10% terhadap total nilai perolehan dana instrumen utang kami. Penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk oleh PNM tahun lalu yang menjadi terobosan baru juga menunjukkan adanya permintaan yang jelas dari pasar Indonesia terhadap peluang investasi yang berfokus pada gender. Seiring dengan terus bertumbuhnya basis investor di pasar kami, kami meyakini pasar Indonesia mampu menyerap lebih banyak penawaran instrumen utang berkelanjutan yang inovatif dengan skala lebih besar di masa mendatang.”
Prof. Shahnaz, CEO dan Founder Impact Investment Exchange (IIX), mengatakan, “Di IIX, selama lebih dari dua dekade kami telah membangun infrastruktur pasar modal yang menyalurkan investasi swasta untuk mendorong kesetaraan gender dan ketahanan iklim. Indonesia telah lama menjadi pasar prioritas bagi kami, mengingat skala pasar modalnya serta ambisi agenda keuangan berkelanjutannya. Penerbitan perdana Orange Bond di Indonesia, yang didorong oleh sektor korporasi, membuktikan bahwa modal tematik dapat bergerak melampaui neraca pemerintah dan masuk ke arus utama pasar. Seiring Indonesia berupaya memobilisasi Orange Capital sebesar USD10 Miliar pada 2030, kami terus bekerja bersama para mitra ekosistem, termasuk BEI, BRIDS, serta para penerbit, investor, dan regulator yang membentuk pasar ini, untuk menjalankan misi kami membangun perekonomian yang inklusif dan tangguh melalui pasar modal yang memberikan manfaat bagi semua. Roundtable ini merupakan bentuk kolaborasi yang kami butuhkan untuk mewujudkannya.”
Fifi Virgantria, Plt. Direktur Utama BRIDS, mengatakan, “Obligasi tematik membuka peluang besar untuk menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan meningkatnya minat investor terhadap keberlanjutan. Sebagai Joint Lead Underwriter (JLU) yang telah menerbitkan sejumlah Obligasi dan Sukuk terkait Orange, termasuk untuk PNM dan FIF, BRIDS melihat langsung potensi tersebut dan berharap kolaborasi bersama BEI dan IIX dapat mempercepat pengembangan pipeline penerbit obligasi tematik di Indonesia.”
Roundtable ini menghadirkan paparan utama dari Bursa Efek Indonesia, pengenalan mengenai Orange Bond dan peluang pasar oleh IIX, serta sesi talk show yang menghadirkan BRI Danareksa Sekuritas, IIX, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan networking.
Indonesia Thematic Bonds Roundtable menjadi inisiatif penting dalam pembangunan pasar untuk memperluas partisipasi korporasi dalam pasar obligasi tematik, sekaligus mendukung ambisi nasional memobilisasi Orange Capital sebesar USD10 miliar pada 2030, sejalan dengan posisi Indonesia sebagai perekonomian terbesar di Asia Tenggara.
Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai Orange Capital dan kerangka Orange Bond, kunjungi https://orangemovement.global/.



Jakarta, 27 April 2026 – The Ministry of National Development Planning/Bappenas of the Government of Indonesia and the Impact Investment Exchange (IIX) officially signed two cooperation documents at the Bappenas Building in Jakarta on Monday (April 27). The two documents are a Memorandum of Understanding and a Cooperation Agreement, to establish a Partnership for Strengthening the Sustainable Development Ecosystem and Resource Synergy to Support the Development of Women’s Entrepreneurship through the SDGs Entrepreneurial Center.